Warisan Untuk Gary Payton II

 Sumber: @warriors

Ada sebuah filosofi pada beberapa kelompok masyarakat yang percaya bahwa seorang anak memiliki peran untuk melampaui orang tuanya. Kehadiran anak sebagai pengganti adalah untuk melewati apa yang dicapai oleh orang yang mereka gantikan -dalam hal ini adalah orang tuanya-.


Meski begitu, tidak semua orang terlahir dalam kondisi sama dan dalam tekanan yang serupa. Tidak sedikit anak dari orang-orang hebat yang akhirnya menekuni bidang yang jauh berbeda dari orang tuanya. Bagi mereka yang tetap berada di bidang serupa dengan sang orang tua yang melegenda, tidak sedikit yang mendapat beban karena nama besar sang orang tua.


Hal serupa juga berlaku untuk Gary Payton II. Terlahir dari seorang ayah 9 kali all stars dan hall of famer, tak ubahnya sebuah beban di pundak kecilnya kala itu. Layaknya seorang anak yang kagum pada orang tuanya, ia mencoba untuk belajar apa yang didalami ayahnya, namun cemooh yang ia peroleh.




"Kenapa ayahmu tidak mengajarimu bermain basket?"

"kamu tidak akan pernah sebaik ayahmu"


Demikian suara sumbang yang sudah akrab di telinga Payton muda. Nama besar ayahnya jadi standar mutu buat dirinya yang masih muda. Tidak jarang, Dwayne -Nama tengah Gary Payton II- mendapat perundungan hanya karena tidak dapat bermain basket seperti ayahnya.


Seperti umumnya anak-anak yang terlahir ke dunia ini, gary Payton II juga mendapatkan warisan genetika dalam tubuhnya. Bukannya atletisme sang ayah yang ia warisi, namun atletisme sang ibu, Monique James. Sang ibu sendiri merupakan seorang defender terbaik dalam sejarah Merritt College. Selain nama yang identik, yang ia warisi dari ayahnya adalah kecintaan pada basket.


Meski sempat alami fase di mana ia membenci basket karena terus mendapat tekanan, ia akhirnya mendapat kembali kecintaannya tepat kala beranjak SMA. Adalah musim pertama di Spring Valley High School di Las Vegas yang membuatnya kembali menyadari hal tersebut.




Waktu berlalu, Alih-alih menerima pinangan tim kuat Saint Mary di NCAA, Payton II memilih masuk Oregon State pada 2013. Dalam masa yang singkat itu, warisan kedua orang tua pemain kelahiran 1 Desember 1992 itu semakin kentara. Terlahir dari dua orang tua spesialis bertahan, Payton meniru semuanya dan membuat dirinya jadi pemain bertahan di NCAA. Tidak lupa, ia juga punya kemampuan bertahan dalam situasi off the ball karena ia dapat mengetahui pola permainan lawan. Tidak lupa, seluruh atribut garda tersebut juga didukung reboundnya yang galak, ia sukses mencatatkan 8.0 rebound per pertandingan selama di Oregon.


Maka jangan heran, beberapa tahun setelah ia berakhir sebagai undrafted di NBA draft 2016, seorang Steve Kerr berkomentar tentang garda 191 CM itu, "Dia bermain layaknya power forward dalam tubuh seorang point guard".


Tak patah arang setelah tak direkrut tim NBA manapun, ia bergabung dengan Rio Grande Valley Vipers. Namun, itu hanya awal dari petualangannya sebagai seorang pemain nomaden yang kerap naik turun kasta dari G League ke NBA atau sebaliknya.


Sempat lama hanya berkutat pada two way contract dan 10 day contract, akhirnya Payton mendaapt kontrak dari Washington Wizards pada 23 Desember 2o19. Namun, setelah mendaapt covid19 pada Juli 2020, ia akhirnya kembali turun ke G League.




Hingga tibalah sebuah kontrak padanya di 8 April 2021 dari golden State Warriors. Mendapat dua kali kontrak 10 hari, akhirnya ia mendapat kontrak lanjut hingga akhir musim. Sempat dilepas, ia lalu diikat kontrak oleh Warriors.


Barangkali, Payton II memang benar tidak akan pernah sebaik ayahnya. Namun, ia tengah berada di dalam jalan yang benar untuk mencari kejayaannya bersama dengan Warriors. Walau dulu ia terus dicemooh, setidaknya ia kini bermain di level tertinggi basket Amerika, lebih tinggi dari orang-orang yang pernah mencibirnya dahulu kala.


Semua proses panjang yang telah ia alami pun membawanya semakin dewasa dan menjadikannya pribadi yang ramah. Sama seperti ketika ia meminta petugas untuk menggantikan minuman penonton yang tak sengaja ia tumpahkan. Maka layaknya sang ayah yang mendapat gelar The Gloves, maka Payton II juga layak mendapat pujian yang sama. Maka sambutlah, Gary "The Gloves" Payton II, your defensive specialist.

Tidak ada komentar