16 Januari 1966: Melepas Banteng ke Rimba NBA

Sumber: USATSI


Pada era 60-an, NBA tengah melakukan gerakan besar-besaran untuk menambah jumlah partisipan pada liga basket tertinggi di Amerika. Salah satu tempat yang menjadi basis pembentukan tim basket tersebut adalah negara bagian Illinois dengan timnya, Chicago Bulls.


Pada awal kemunculannya di 1966, bulls segera tancap gas untuk masuk zona playoff. Tidak berhenti sampai di situ, mereka pun tetap bisa mempertahankan performanya pada musim selanjutnya. Namun, meski tetap rutin untuk dapat bersaing di tingkatan playoff, tim ini belum bisa mendapatkan gelar juara.


Pada musim 1984, Houston Rockets mengambil Hakeem Olajuwon, Portland Trail Blazers dengan Sam Bowie, sedangkan Chicago Bull memilih Michael Jordan. dan sisanya adalah sejarah. Sang general manager kala itu, Jerry Kraus memutuskan untuk membangun tim Bulls dengan menggunakan Jordan muda sebagai fondasi tim.


Secara bertahap, setelah bergabungnya MJ, Bulls senantiasa masuk ke dalam playoff. Pada babak gugur tersebut, mereka memporlihatkan perkembangan yang signifikan hingga akhirnya berbuah pada 1991 ketika tim tersebut akhirnya sukses merebut trofi Larry O'Brien.


Konsistensi yang tercipta dengan andalkan kombinasi Jordan dengan Scottie Pippen membuat Bulls sukses tumbangkan Lakers dengan Magic Johnson di final 1991, Clyde Drexler dan Portland Trail Blazersnya pada 1992, dan ditutup pada 1993 dengan mengalahkan Phoenix Suns dengan sang pemain andalan, Charles Barkley.


Sumber: @chicagobulls


Pasca pensiun pertama Jordan, tim yang bermarkas di United Center ini hanya mampu menapak di babak semifinal wilayah timur. Namun, mereka kembali mendapatkan kejayaannya setelah sang bintang kembali dari pensiunnya di 1995.


Selanjutnya, Jordan, Rodman, dan Pippen pun sukses mengulang kesuksesan tiga kali juara beruntunnya hingga Bulls akhirnya terpisah demgam perginya Phil Jackson dan Scottie Pippen, serta pensiunnya Jordan untuk kedua kalinya.


Setelahnya, tim yang tidak pernah mengganti logonya sejak awal berdiri ini seakan memasuki era kegelapan dengan tidak sekalipiun lolos playoff hingga 2004. Barulah di 2005, mereka kembali lagi ke playoff meski cepat tersingkir.


Sempat memperoleh asa dengan cemerlangnya Derrick Rose dan membawa tim tersebut ke final wilayah timur, tim dengan jersey merah ini pun harus tetap bersabar setelah sang bintang alami cedera ACL.


Walau beberapa kali tampil di babak playoff lagi, Bulls bukanlah tim yang sama lagi dan hanya menjadi penghias playoff. Pada musim ini, Bulls seakan kembali mekar dengan mengkilapnya para pemain rekrutannya, seperti DeMar Derozan yang ternyata mampu membantu Zach LaVine untuk capai puncak klasemen wilayah timur.


Selanjutnya, tugas dari pelatih Billy Donovan untuk dapat memastikan tim ini untuk dapat kembali ke final NBA setelah 24 tahun lamanya. Sekaligus membuktikan bahwa Bulls tidak hanya bisa bergantung kepada seorang Michael Jordan.

Tidak ada komentar