20 Januari 2000: Herro to be Hero

Sumber: Heat Nation

For the 13th pick, Miami Heat select Tyler Herro

Mendengar namanya disebut Herro tersenyum tipis dan memeluk orang tuanya yang hadir pada malam draft tahun 2019. Pada musim itu pula, Herro segera mendapat apa yang diimpikan ruki di angkatannya, mencapai NBA final. 


Walau sempat ditunda karena pandemi virus Corona, musim 2019-2020 tetap dilanjutkan di dalam bubble yang diselenggarakan di Orlando. Pada babak playoff, Herro memperlihatkan dirinya pantas untuk menjadi shooting guard yang dipilih di peringkat 13 dalam NBA draft menyusul nama shoting guard beken lainnya seperti Kobe Bryant, Donovan Mitchell, hingga Devin Booker.


Kombinasinya dengan Duncan Robinson berhasil bantu timnya atasi perlawanan Boston Celtics di final wilayah. Lalu di final NBA, barulah panggung sebenarnya untuk Herro. Pemain yang saat itu berusia 20 tahun itu membuat catatan 14,6 poin per pertandingan. Apa yang dilakukan pemain bernomor 14 ini jadi suntikan moral untuk Jimmy Butler yang memikul beban banyak di punggungnya, walau pada akhirnya, mereka tetap kalah dari Lakers, 2-4.


Walau alami penambahan poin per laga musim kemarin, perkembangan tersebut tidak demikian terasa di tengah inkonsistensi timnya yang berakhir pada tersingkirnya Heat pada ronde pertama oleh Milwaukee Bucks. Barulah pada musim ini, Herro perlihatkan bahwa ia adalah pemain yang bisa disetarakan dengan Zion atau Ja Morant.

Sumber: AP


Musim ini, Herro tengah berjuang mewujudkan apa yang pernah ia utarakan. Walau hanya memulai pertandingan sebagai starter di 10 dari 44 pertandingan yang dilakoninya, ia tetap mampu menjadi pahlawan dari bangku cadangan. Sepanjang musim berjalan, ia telah tunjukkan bagaimana kualitas dirinya untuk mengejar tiga nama shooting guard yang dipilih di posisi 13 sebelumnya.


Walau belum bisa menjadi tulang punggung timnya layaknya Ja Morant di Grizzlies, ia memperlihatkan bisa jadi pendukung yang tepat untuk Butler dengan melalui sumbangan 20 poinnya tiap pertandingan, terbanyak kedua di timnya. Bukan hanya dari aspek mencetak angka, ia pun bisa jadi pendukung yang baik buat rekan setimnya dengan memberi 4 assist setiap pertandingan, terbanyak ketiga di timnya.


Petualangan Herro barangkali masih panjang. Ia pun masih harus mengembangkan dirinya untuk mengurangi 2,8 turnover yang ia buat dan harus bersiap andai Butler tiba-tiba pergi dan membuatnya harus jadi yang pertama seperti yang telah dilakukan Morant sedari awal debut.


Barangkali masih terlalu dini untuk mengganggap Herro bisa jadi bintang besar di masa depan. Namun yang pasti, Herro adalah pahlawan yang senantiasa datang membantu walau harus datang terlambat dari bangku cadangan. Selamat ulang tahun, Boy Wonder!

Tidak ada komentar