21 Januari 1963: The Dream Come True

Sumber: NBA.com

Olajuwon lakukan drive ke area paint San Antonio Spurs dan bersiap untuk melakukan layup. David Robinson bersiap untuk menghentikannya. Olajuwon melakukan gerakan tipuan, Robinson bereaksi dengan mengangkat tangannya. Hakeem berputar mundur dan menghindari penjagaan, Robinson melompat bersiap blok, tapi itu hanyalah fake dan sang pemain Rockets lakukan layup.


Demikian sedikit cuplikan legendaris dari game 2 final wilayah barat NBA musim 1994 - 1995. Musim tersebut jadi masa-masa indah Rockets dengan 2 gelar juara liga basket tertinggi di Amerika pada musim 1994 dan 1995. Semuanya bermula dari seorang pemain, Hakeem Olajuwon.


Terlahir di Lagos, Nigeria 21 Januari 59 tahun yang lalu. Semasa sekolahnya, Hakeem tidak serta merta berkenalan dengan bola basket. Ia awalnya adalah seorang kiper pada olahraga sepakbola yang terkenal di negara asalnya tersebut. Jangan heran, gerakan kakinya adalah senjata paling mematikan yang ia punya.


Gerakan kaki lincahnya tersebut akhirnya menarik perhatian seorang guru. Ia diminta melakukan dunk dengan menggunakan kursi. Lalu setelahnya, jalur takdir dari Hakeem membawanya mencintai olahraga bola basket dan dari situlah sejarah dimulai.

Sumber: ESPN


Memasuki NBA pada tahun 1984, Hakeem yang sudah terkenal saat membela University of Houston akhirnya terpilih di pilihan pertama pada NBA Draft, di atas Michael Jordan, Charles Barkley, dan John Stokton. Bersama dengan Ralph Sampson, Olajuwon ciptakan duo twin tower yang seketika meningkatkan jumlah kemenangan Rocket.


Pemain setinggi 213 CM tersebut menutup musim debutnya dengan 20,6 poin, 11,9 rebound, dan 2,6 blok per game. Ia hanya kalah dari Michael Jordan dalam persaingan untuk gelar rookie of the year musim tersebut. 


Setelah musim debutnya, ia senantiasa membawa timnya ke babak playoff. Bahkan, ketika musim keduanya di NBA, ia berhasil bawa timnya melaju hingga babak final bersua Boston Celtics yang saat itu dipekuat Kevin McHale, Robert Parish, dan Larry Bird setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Lakersnya Kareem Abdul-Jabbar.


Sayangnya, pada final tersebut Houston Rockets harus akui tim asal negara Massachussets tersebut, 2-4. Setelahnya, mereka senantiasa terhenti di babak pertama playoff, bahkan puncaknya di musim 1991-1992, Rockets tidak mampu lolos ke babak playoff. Hal tersebut pada akhirnya membuatnya hendak pindah karena kurang seriusnya Rockets membuat tim di sekitarnya.

Sumber: Getty Images


Kepindahan tersebut urung terjadi setelah adanya pergantian pelatih. Olajuwon pun kemudian semakin berkembang dalam hal poin dan kemampuan memberikan umpan. Puncaknya, ia berhasil membawa Rockets juara di 1994 dan 1995.


Pada final 1994, pemain bernomor punggung 34 ini pun bawa timnya atasi New York Knicks, 4-3 dan di tahun setelahnya, Olajuwon bawa tim yang dulu berbasis di San Diego tersebut atasi perlawan dari Orlando Magic, 4-0. Dua gelar tersebut hingga hari ini masih belum bertambah hingga hari ini. Nama Hakeem akan senantiasa dikenang oleh para pendukugn Rockets.


Selain di mata fans, para pemain yang pernah berhadapan dengannya pun memiliki kenangan tersendiri. Khususnya, untuk seorang Shaquille O'Neale yang pernah berhadapan dengannya di final NBA 1995. Ia mengakui bahwa Hakeem adalah lawan yang paling susah ia hadapi karena selalu memiliki sejumlah trik tersembunyi.

Sumber: Bleacher Report


Salah satu teknik paling legendaris dari 12 kali all star tersebut adalah gerakan Dream Shake. Gerakan kaki yang sangat halus dan mampu menipu pemain lawan yang sedang menjaganya. Kemampuannya tersebut tidak terlepas dari latihan sepakbola yang ia jalani sewaktu ia masih bersekolah di negara asalnya.


Sepanjang kariernya, Hakeem Olajuwon meraih 2 gelar juara NBA sekaligus jadi MVP final, MVP musim reguler 1994, 12 kali all star, 6 kali all NBA first team, 5 kali NBA all defensive team, serta nomor punggungnya dipensiunkan oleh Houston Rockets.

Tidak ada komentar