19 Februari 1995: Jokic Is Not A Joke

Sumber: Getty Images

Tim mana yang menyandarkan nasib timnya di tangan seorang pemain yang dipilih dalam urutan ke-41 dari sebuah NBA Draft? Jawabannya adalah Denver Nuggets.


Terpilih saat tidur pada tahun 2015, Jokic mampu buktikan diri untuk meraih posisi utama di musim perdananya. Bermain sebagai starter di 55 dari 80 pertandingannya, ia sukses membuat 10 poin dan 7 rebound setiap game-nya. Barulah pada musim 2017-2018 Jokic menjelma menjadi pilar penting untuk tim asal Colorado tersebut. Sayangnya, ia masih tidak mampu membawa timnya melanggeng ke babak playoff.


Barulah di musim 2018-2019, ia sepenuhnya menjadi fondasi untuk timnya. Selalu bermain sebagai starter, ia meledak dengan 20.1 poin dan 10.8 rebound setiap pertandingan. Sebagai seorang mesin triple double, Jokic adalah paket komplit yang dibutuhkan sebuah tim. Bisa jadi fasilitator, bisa melepas tembakan tripoin, punya IQ bermain yang bagus, serta badan yang tak terkalahkan. Hanya satu kelemahannya, kecepatan.


Sumber: Getty Images

Berperan sebagai seorang pemegang kunci permainan tim, Jokic adalah seorang orkestrator sekaligus eksekutornya. Alih-alih bermain sendiri, ia mampu membuat setidaknya 7,6 assist selama 4 musim terakhir. Musim 2019-2020, kombinasinya dengan Jamal Murray berhasil balikkan situasi tertinggal 1-3 di babak playoff menjadi kemenangan atas Utah Jazz dan LA Clippers. Sayangnya, mereka tidak diberi waktu beristirahat oleh LA Lakers di babak final wilayah barat dengan skor 1-4.


Di musim selanjutnya, Jokic tetap menjadi Jokic. Mesin skor, pemberi assist matang, serta rim protector ulung. Meski ditinggal Jamal Murray yang alami cedera ACL, Jokic tetap mampu bawa timnya ke peringkat 3 klasemen akhir wilayah barat musim 2020-2021. 


Lewat capaian tersebut, ia dianugerahi gelar Most Valuable Player (MVP) regular season. Sayangnya, ia tidak mampu mengulang prestasi untuk lolos ke final wilayah setelah disapu bersih oleh Phoenix Suns di ronde 2.


Musim ini kembali jadi musim yang berat untuk Jokic. Ditinggal oleh Jamal Murray yang masih cedera, ia pun harus mengangkat timnya seorang diri dan sekarang kembali berada dalam diskusi seputar kandidat MVP. Di balik tubuhnya yang tidak seperti olahragawan pada umumnya, Jokic memperlihatkan kepada dunia, bahwa ia bukanlah sebuah joke.

Tidak ada komentar