20 Februari 1963: Raja Rebound Kecil

 Sumber: -


Sudah menjadi tugas bagi seorang power forward untuk memperebutkan rebound dalam olahraga basket. Karena hal tersebut, maka wajar bila bermain di posisi tersebut memiliki kemampuan fisik mumpuni serta badan yang tinggi. Namun, hal tersebut nyatanya bisanya dipatahkan oleh Charles Barkley.


Terlahir di Leeds, Alabama pada 1963, Barkley tidak pernah bertemu dengan ayahnya yang meninggalkan dirinya dengan ibunya. Beruntung, ada orang baik yang akhirnya mau menjadi ayah angkat untuk Barkley dan menampung ibunya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ayah angkat Barkley meninggal kala usia Barkley masih 11 tahun.


Tumbuh dan besar di sekitar orang yang menggemari olahraga basket sedikit banyak mempengaruhi Barkley. Namun, karena tubuhnya yang hanya setinggi 170-an CM, ia tidak dimainkan sebagai pemain utama kala ia SMA.


Sumber: Getty Images

Barulah pada tahun ketiganya, setelah ia alami pertumbuhan yang sangat pesat ke angka 193 CM, ia dipercaya jadi pemain utama timnya dan segera menjadi pemain paling dominan. Tidak hanya itu, ia juga bisa merajai catatan rebound untuk tim SMA yang ia bela.


Lepas dari sekolah menengah, pemain yang akrab disapa Chuck ini pun membela tim Auburn Tigers di NCAA. Di tim tersebut, ia lekas menjadi pemain utama dan jadi andalan sang pelatih.


Meski hanya memiliki tinggi badan 190-an CM, Barkley tetap mampu menjadi raja rebound selama 3 tahun membela tim tersebut. Selama di Auburn, ia mencatatkan rataan 9,6 rebound setiap game.


Pada tahun 1984, Barkley akhirnya mengumumkan akan ikut NBA Draft pada tahun tersebut. Ia lalu dipilih oleh Philadelphia 76ers di urutan ke-5. Uniknya, sebelum pemilihan tersebut, pihak Sixers sempat menghubunginya untuk mengurangi berat badannya, walau yang terjadi justru sebaliknya karena Barkley tidak ingin digaji rendah oleh Sixers yang saat itu sedang berada di situasi cap space rendah.


Sumber: Getty Images

Di Sixers, ia bergabung dengan Moses Malone dan Julius Erving. Bermain untuk tim asal Pensylvania, Chuck perlahan memperlihatkan kebintangannya dengan kemampuan reboundnya yang di atas rata-rata. Tidak hanya itu, ia juga mampu membawa timnya ke final wilayah timur, walau harus kalah dari Boston Celtics.


8 musim ia habiskan di 76ers dan sempat jadi seorang rebound champ pada musim 1986-1987. Lewat catatan 14,6 rebound tiap pertandingan, ia menasbihkan diri jadi pemain terpendek yang pernah meraih penghargaan tersebut.


Setelah dari Sixers, pria yang baru saja terpilih ke dalam 75 greatest players in NBA History ini hijrah ke Suns dengan harapan meraih gelar juara. Pada musim perdananya di tim asal Arizona, ia segera menjadi MVP musim reguler.


Sumber: Getty Images


Tidak hanya jadi MVP, Barkley pun segera ke NBA final pada babak playoff musim tersebut. Sayangnya, ia harus berhadapan dengan Chicago Bulls yang saat itu sangat kuat dengan Michael Jordan.


Penampilan yang sama impresifnya tetap ia berikan saat musim setelahnya. Perjalanannya di playoff pun cukup bagus. Ia sukses masuk babak final wilayah barat. Sayangnya, ia harus akui keunggulan Houston Rockets yang saat itu dipimpin oleh Hakeem Olajuwon.


Sumber: Getty Images

4 musim di Suns, lelaki yang kini bekerja sebagai analis NBA ini pun bergabung dengan Clyde Drexler dan Hakeem Olajuwon untuk berusaha meraih cincin juara di Houston Rockets. Sayangnya, hingga ia pensiun di 2000, ia tetap tidak pernah meraih apa yang ia cita-citakan tersebut.


Setelah pensiun, Chuck menjadi analis NBA. Tidak lupa, ia bergabung ke dalam Hall of Fame pada tahun 2006 bersama dengan Joe Dumars dan Dominique Wilkins.

Tidak ada komentar