Standar Tinggi Dunk Contest

Sumber: Getty Images

Dunk Contest merupakan acara puncak dari pelaksanaan NBA All Star weekend, sebuah acara tahunan yang sekaligus jadi jeda di tengah musim reguler liga basket tertinggi di Amerika. Perlombaan ini sendiri pertama kali diadakan ketika tahun 1984 di mana Larry Nance keuar sebagai juara.


Seiring waktu, juara pun berganti. Mulai Michael Jordan, Dominique Wilkins, hingga mendiang Kobe Bryant. walau sempat terhenti di tahun 1998 dan 1999, Vince Carter segera meledakkan dunk contest ketika kembali diadakan di tahun 2000.


Lomba ini pun senantiasa menjadi suguhan yang senantiasa bisa menarik keriuhan arena pelaksanaannya. Nate Robinson melompati seorang Dwight Howard atau kala Blake Griffin lakukan dunk lompati mobil. Hingga tiba tahun 2016.


Sumber: -

Pada puncak perlombaan adu tombok tersebut, dua nama saling beradu kemampuan. Aaron Gordon dari Orlando Magic melawan Zach LaVine yang saat itu masih berbaju Minnesota Timberwolves. Gordon yang jadi keikutsertaan pertamanya sukses sajikan pertarungan dengan sang jawara bertahan.


dalam dua kali kesempatan pertama dalam laga final, keduanya beri penampilan sempurna. 100 poin untuk keduanya. Karena situasi imbang, dilanjutkan dengan babak tie-break. Pada bagian pertama, Aaron Gordon lakukan dunk bertenaga dari tepi lapangan. LaVine tidak mau kalah, berlari dari belakang ring, ia sukses getarkan ring dengan dunk sempurna juga. Perlombaan dilanjutkan ke babak perpanjangan kedua.


Pada pertandingan penentu tersebut, Gordon lakukan hal yang mirip dengan yang sebelumnya. Namun tanpa bantuan temannya kali ini. Sayang, hanya berbuah 47 angka. Kurang kreatifnya dunk tersebut dimanfaatkan LaVine dengan dunk between the leg yang luar biasa dan kembali peroleh 50 angka.


Sumber: -

Angka yang sama nampaknya kembali jadi angka sial untuk Aaron Gordon pada 2020. Berhadapan dengan Derrick Jones dalam laga final, ia peroleh 47 angka di babak tie break 2 setelah 3 dunk sebelumnya sama-sama peroleh poin sempurna. Selisih 1 angka akhirnya jadi musabab pemain yang kini berbaju Nuggets tersebut urung mendapat gelar raja dunk untuk musim tersebut.


Kreatifitas, keefektifan, serta eksplosifitas menjadi aspek-aspek penilaian untuk kompetisi adu dunk ini. Lewat duel ketat yang tersaji sebelum-sebelumnya, penampilan kontes dunk pun senantiasa jadi sorotan utama dan mendapat standar tinggi akibat dari parade dunk hebat sebelumnya.


Namun, apa yang terjadi di dua terakhir adalah hal yang benar-benar di luar harapan. Ekspektasi tinggi yang ditanam, menjadikan apa yang disajikan oleh Anfernee Simons, Obi Toppin, Cassius Stanley musim lalu menjadi olok-olok mengingat penampilan final yang malah anti-klimaks. Ditambah penampilan kontes seberang yang jauh lebih mendebarkan.


Sumber: Marca


Walau penampilan yang disajikan empat penampil masih tetap menyedihkan, apa yang menjadi kekecewaan fans basket nyatanya kurang lebih terjadi karena harapan dan standar tinggi yang telah disemai oleh turnamen-turnamen sebelumnya. Apalagi, di era di mana kombinasi permainan semakin berkembang seperti sekarang, permainan satu orang sudah cukup jarang untuk jadi tumpuan sebuah tim untuk cetak angka.


Beberapa pemain juga barangkali hal yang sama seperti apa yang diutarakan oleh Anthony Edwards. Ia mengaku bahwa dirinya adalah orang yang lebih suka melakukan dunk terhadap orang. Maka sudah seharusnya, NBA lakukan adaptasi dalam dunk contest ini, sebagaimana penambahan bola tiga angka dalam kontes menembak tiga angka untuk menyikapi pemain yang bisa lepaskan tembakan dari jarak yang lebih jauh lagi.

Tidak ada komentar