The End of Story in Portland

Sumber: @Damianlillard
 

Ia terpilih pada urutan ke-10 NBA Draft 2013. Dua musim perdana di NBA-nya adalah awal yang sulit. Bermain di posisi shooting guard, ia hanya bermain sebagai starter sebanyak 3 kali dalam 2 tahun. Total, ia hanya membuat rataan 6.05 poin setiap pertandingannya. Namun, ketika ia diberi kepercayaan untuk mengisi posisi utama di timnya, ia menjelma jadi mesin penembak tiga angka dan meningkatkan rataannya ke 20.8 poin pertandingan dan jadi most improved player musim 2015-2016. Dia lah CJ McCollum.


Setelah musim luar biasa tersebut, ia pun tetap menjadi kepercayaan utama para pelatih Blazers. Kombinasinya dengan Damian Lillard jadi salah satu yang paling mengerikan di liga saat itu. Prestasi terbaik kombo terbut tentu saja adalah pada musim 2018-2019 kala mereka merengkuh final wilayah barat sebelum dihancurkan oleh Golden State Warriors.


Sumber: @Damianlillard

Setelah musim hebat tersebut, mereka kembali alami nasib yang sama pada dua tiga musim sebelumnya, gugur dari ronde pertama playoff. Seakan-akan kembali lagi ke pengaturan awalnya, Portland Trail Blazers kembali alami masalah untuk menghadapi persaingan ketat wilayah barat.


Setelah 9 tahun bersama, duo bintang tersebut pada akhirnya harus mengakhiri kebersamaan yang tak kunjung berbuah gelar tersebut. CJ McCollum pergi ke New Orleans Pelicans, bersama Tony Snell dan Larry Nance. Sebagai bagian dari kesepakatan kedua tim, Pelicans mengirim Josh Hart, Nickeil Alexander-Walker, Tomas Satoransy, dan Didi Louzada.


Setelah beberapa waktu tidak pernah muncul karena masih menjalani pemulihan cedera, Damian Lillard akhirnya memberi ucapan perpisahan terhadap rekan setimnya tersebut, "Grateful for our brotherhood and friendship above all bra… we knew this day would come but it doesn’t make it any easier. Hurt my heart to know shit won’t be the same but the love gone always remain C! You know what time it is with me always. All the best going forward my brother 🙏🏽".

Tidak ada komentar