Dua Senjata Cameron Johnson

Sumber: -

Tahun lalu, Cameron Johnson mencuri perhatian saat memasuki final NBA. Sembari memperjuangkan gelar juara untuk Phoenix Suns, pemain yang baru saja berusia 26 tahun pada 3 Maret itu ternyata juga sedang menyusun tesis untuk program magisternya.


Menariknya, keluarga besar pemain bertinggi 203 CM tersebut lebih menginginkan dirinya segera menyelesaikan studi administrasi olahraganya tersebut. Namun, Johnson tidak pernah mengeluh dan tetap memperjuangkan pendidikannya sembari tetap bermain di final liga basket tertinggi di Amerika, walau gelar juara belum menjadi jodohnya.


Memasuki musim ketiganya di NBA, pemain yang masuk NBA draft pada usia 23 tahun tersebut memperlihatkan statistik yang kian meningkat. Bahkan, perkembangan yang ditunjukkan lebih signifikan ketimbang musim sebelumnya. Padahal, ia hanya mendapat tambahan 2 menit per pertandingan bila dibandingkan kesempatan bermain yang ia peroleh sebelumnya.


Pada lanjutan NBA musim 2021-2022, ia bermain dari bangku cadangan saat timnya berhadapan dengan New York Knicks. Pertandingan yang dihelat di markas Phoenix Suns tersebut tentunya tidak mudah untuk anak asuh Monty Williams yang sedang tidak diperkuat dua pemain andalannya, Devin booker dan Chris Paul.


Sumber: -

Bermain selama 28 menit, pemain yang dipilih pada urutan 11 dalam NBA draft tersebut memperlihatkan bahwa ia memilki 2 senjata yang ia selalu andalkan, decision making dan kerja keras. Punya menit bermain terbanyak ke-5 di timnya, ia perlihatkan efisiensi 68% untuk bawa timnya menang, 115-114.


Pada pertandingan tersebut, Cam Johnson tidak hanya memperlihatkan bagaimana ia menggunakan 2 senjata dari seorang pemain basket, otak dan otot. Dirinya juga berhasil membuat catatan baru dalam 3 tahun kariernya di NBA, poin tertinggi dalam karier lewat 38 poin dan 9 tembakan tiga angka.


Cam Johnson memperlihatkan kepada kita bahwa menjadi pemain profesional di level tertinggi sekalipun, seseorang harus tetap berusaha keras untuk tingkatkan performa dan tidak lupa untuk mengenyam pendidikan sebagai fondasi dasar seorang pemain bila nantinya ia sudah tidak lagi menjadi pemain profesional.

Tidak ada komentar